Pagi itu aku mengulang awal yang belum sempat kumulai. Awal yang kutunggu berminggu-minggu hingga bulan-bulan berlalu. Awal yang kuharap dapat semburkan semangat. Awal yang kuharap mampu keringkan cucuran keringat.
SBMPTN.
Beberapa minggu terakhir menjelang diselenggarakannya tes, anganku menangkap sebuah wacana yang sesaat menjadi pencerah harapanku. Entah apa yang membuatku mulai berpikir tentang hal ini, tapi aku merasa tidak salah.
Siang itu berulang-ulang kucoba mengingat lagi. Kilasan kalimat itu semakin nyata dalam pikiranku. Kalian tahu apa itu ?
"Mencerdaskan kehidupan bangsa"
Guruku semasa SMA mengatakan bahwa itu adalah salah satu tujuan bangsa yang tercantum dalam hukum dasar kita, Undang-Undang Dasar 1945.
Sekarang kalian tahu apa yang ada dalam pikiranku ?
Apakah kalian juga masuk ke dalam pemikiranku ?
Dahulu aku berpikir bahwa seseorang yang gagal sebelumnya, dalam hal ini melanjutkan studi, tetapi masih mencoba menempuh jalan yang sama adalah suatu tindakan pemaksaan dan egois. Hari ini aku berpikir betapa primitifnya pemikiranku kala itu. Bagaimana bisa seseorang yang teguh pendirian, yakin, dan sanggup berjuang kusebut egois ? Aku benar-benar merasa miskin.
Setelah bertemu dengan orang-orang bernasib sama denganku dalam sebuah pelarian "terhormat" aku menyadari bahwa passion & talent tak pernah bisa dikurung. Kekang itu pastia akan putus oleh amukan jiwa-jiwa yang haus di tepian arus.
Mimpi-mimpi itu mereka tangguhkan. Harapan itu mereka simpan untuk kemudian dinyalakan. Darah-darah juang itu tidak mengeluh, juga tidak mengalah. Mereka ingin memberi karena ikhlas, bukan karena ingin dibalas. Termasuk aku.
Aku menyadari bahwa aku bukan gadis yang pintar, tapi aku tak ingin berhenti belajar. Orang tuaku bukan orang kaya, tapi aku ingin mengubah nasib mereka. Janji negara akan mencerdaskan kehidupan bangsa telah menyalakan yakinku bahwa negara tak mungkin membodohkan masyarakatnya. Karena kewajiban adalah kewajiban.
Namun kemudian nyala yakinku meredup saat kudengar suara sayup-sayup,
"Apakah suaramu akan didengar ?"
Runtuh.....
Aku tak punyai jawaban. Aku hanya gadis polos yang mencoba bersuara. Dan kuharap kudapati jawabannya.
Terbayang wajah-wajah penuh harapan
Dua pasang mata yang bercucuran keringat setiap harinya
Kulit keriput nan legam yang terpapar panas yang mengganas
Apa yang harus kukatakan pada mereka jika mimpi ini harus kandas ?
Takkan sanggup mata ini menatap wajah lelah itu
Ibu..
Bapak..
Sampai kapan sayap ini harus tertahan tak bisa berkepak ?
Pertiwi..
Apa yang bisa kuberi jika aku tak bisa mengabdi ?
Aku ingin menjadi pemberi, bukan peminta-minta
Aku ingin menjadi pengabdi, bukan pendurhaka
Solo, 11 Juni 2015
Meita Kumalayanti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar