Kemarin aku baru aja mengirim naskah cerita dalam lomba yang diselenggarakan oleh sebuah organisasi jurnalistik. Sayangnya terjadi miskomunikasi. Ketentuan dari pihak penyelenggara 500-1000 karakter, aku kira sama dengan 500-1000 kata. Alhasil ceritaku yang 922 kata itu gak kepake deh.
Nah, daripada mubadzir, cerita wisataku ke salahsatu candi di Jawa Tengah ini aku post aja di satu-satunya blog milikku www.horranggenah.blogspot.com. Here is this :
Candi Sukuh,
Erotisme Terbalut Kabut
Saya jatuh cinta pada gunung dan
sangat mencintai gunung. Terlahir di lereng sebuah gunung membuat saya tak
pernah bosan melangkahkan kaki untuk sekedar jalan-jalan dan menikmati suasana
alam ciptaan Tuhan. Sebagai warga sipil
yang tercatat berdomisili tetap di Kabupaten Magetan Provinsi Jawa Timur,
menelusuri destinasi wisata di lereng bagian timur Gunung Lawu sudah berulang
kali saya lakukan. Jadi, pada kesempatan ini saya mencoba melebarkan eksplorasi
saya ke lereng bagian barat Gunung Lawu yaitu Candi Sukuh Kabupaten Karanganyar
Provinsi Jawa Tengah.
Bersama dua orang teman perempuan,
saya mengendarai sepeda motor dari Magetan menuju Karanganyar. Ini kunjungan
pertama saya ke Candi Sukuh, kunjungan mendadak tanpa perencanaan dan
pengetahuan dasar. Jalur yang kami
lewati berliku dan menanjak khas jalanan pegunungan. Pemandangan kokohnya pohon
berjajar di kiri dan kanan jalan layaknya pagar yang tinggi menjulang. Beberapa
kali kabut tipis juga turun menyertai perjalanan kami yang menyebabkan tubuh menggigil.
Tidak hanya disuguhi pemandangan
pepohonan yang kokoh terbalut kabut, pedagang kaki lima pun juga turut berjajar
menjajakan dagangannya di beberapa titik. Salah satu titik tersebut adalah di
kawasan perbatasan Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah yang juga menjadi pintu
gerbang pendakian Gunung Lawu. Banyak pedagang kaki lima maupun warung-warung
yang menjual makanan dan minuman hangat. Jadi bila anda ingin berwisata
melewati kawasan ini tidak perlu khawatir dengan stok konsumsi anda. Selama
kantong anda masih berisi anda dapat membeli makanan maupun minuman dengan
harga yang tergolong murah di kawasan ini.
Dari kawasan perbatasan provinsi
kami melanjutkan perjalanan selama kurang lebih 45 menit hingga sampai di loket
masuk kompleks wisata Kemuning. Wisatawan yang hendak masuk diwajibkan membayar karcis sebesar Rp 2.000,00 untuk masing-masing orang.
Di kompleks ini terdapat beberapa obyek wisata seperti Perkebunan Teh Kemuning,
Candi Ceto, Candi Sukuh, Telogo Madirdo, dan beberapa air terjun. Bahkan pada
waktu tertentu setiap tahunnya juga diselenggarakan olahraga paralayang di kawasan ini. Namun, seperti yang telah saya tuliskan
sebelumnya kami mengambil arah menuju Candi Sukuh.
Apabila anda
berangkat dari arah Kota Solo, anda dapat mengikuti plang petunjuk arah menuju
daerah Kemuning. Waktu tempuh yang diperlukan juga hampir sama, yaitu kurang
lebih dua jam hingga sampai di Candi Sukuh.
Dari loket pertama memerlukan
waktu 5 sampai 10 menit untuk sampai di lahan parkir Candi Sukuh. Lahan parkir
yang disediakan bersebelahan dengan lokasi candi dan cukup untuk menampung beberapa
mobil dan sepeda motor, namun tidak cukup luas untuk memarkir bus pariwisata.
Ada juga fasilitas umum lainnya seperti warung makanan, penyewaan ATV, toilet
umum, dan Masjid yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Bila berkenan
membeli oleh-oleh wisatawan juga bisa membeli kerajinan
tangan masyarakat setempat yang dijual di kawasan candi.
Untuk masuk ke pelataran Candi
Sukuh wisatawan diwajibkan membayar tiket sebesar Rp 3.000,00 untuk
masing-masing orang. Bila wisatawan menghendaki penjelasan mengenai relief yang
tergambar di panel candi seorang pemandu wisata juga disediakan,
bahkan satpam penjaga juga dapat membantu memberikan
informasi yang anda butuhkan.
Dari pintu masuk yang akan anda
temui pertama kali adalah papan bertuliskan ulasan mengenai candi. Kemudian
wisatawan akan menemui sebuah gapura beratap yang ditutupi pagar bersebelahan
dengan tangga menuju teras pertama. Di gapura tersebut terdapat beberapa relief
sengkala yang terukir di sisi kiri kanan gapura. Keunikan lain yang bisa
wisatawan temui adalah ukiran sebuah relief menyerupai bentuk lingga dan yoni
di lantai gapura yang dilindungi pagar. Konon relief tersebut dahulu kala
digunakan masyarakat setempat untuk uji keperawanan dan kesetiaan. Namun, saat ini sudah tidak difungsikan
serta dilindungi pagar agar relief tetap terjaga.
Di teras ke dua terdapat tangga
gapura tanpa atap. Bentuknya pun sudah tidak detail. Di sisinya terdapat dua arca
penjaga yang wujudnya juga sudah tidak beraturan. Tidak
banyak arca yang bisa wisatawan temui di teras ini.
Teras ketiga adalah teras yang
paling luas diantara kedua teras lainnya. Di teras ini terdapat bangunan utama
candi dan beberapa patung serta panel. Panel-panel tersebut menceritakan
cuplikan kisah salah seorang anggota pandawa yaitu Sadewa. Seorang satpan yang
memandu wisatawan dan kebetulan saya temui juga menuturkan bahwa candi yang
dikenal dengan relief erotiknya ini menceritakan kehidupan manusia sejak lahir
hingga mati. Selain itu arca dalam jumlah lumayan banyak
juga dapat dilihat di teras ini seperti arca berkepala gajah, tiga buah arca
kura-kura yang besar, dan dua buah arca garuda yang salah satunya memuat
prasasti sukuh.
Candi Sukuh yang merupakan candi
bercorak hindu peninggalan akhir Kerajaan Majapahit ini memiliki bentuk yang
berbeda dengan kebanyakan candi hindu di Indonesia. Hal ini karena bagian atas
candi yang berbentuk datar. Bahkan ada beberapa yang mengatakan bentuk candi
ini menyerupai candi peninggalan Bangsa Maya. Selain bagian atasnya yang datar,
pada bagian tengah candi juga terdapat tangga yang memungkinkan
wisatawan untuk naik ke atas candi. Namun, wisatawan yang diperkenankan menaiki
candi dalam sekali waktu dibatasi tidak boleh melebihi jumlah sepuluh orang. Di atas candi tepatnya di bagian
tengah setelah jalan masuk terdapat sebuah kotak cekung yang didalamnya
berisikan dupa. Dari atas candi ini juga bila cuaca cerah wisatawan dapat
melihat pemandangan Kabupaten Karanganyar dan Kota Solo dari ketinggian.
Setelah puas
menjelajahi wisata sejarah di Candi Sukuh, kami menyempatkan diri singgah ke
Telogo Madirdo yang hanya berjarak tiga kilometer. Selain penasara dengan wujud
telaga yang masih sangat alami ini, kami juga ingin mencoba menemukan jalan
pintas menuju daerah Tawangmangu yang berdekatan dengan lokasi telaga. Memang
benar ada satu jalan pintas yang menghubungkan dua kawasan wisata tersebut.
Terlebih jalan pintas itu berujung tepat di loket masuk wisata Grojogan Sewu.
Sangat tepat bagi wisatawan yang juga hendak berkunjung ke air terjun yang
sangat terkenal ini. Namun, bila anda mengendarai roda empat disarankan tidak
melewati jalanan ini karena sempit. Dan bila anda pengendara roda dua, pastikan
anda sudah berpengalaman melewati tanjakan sempit berliku khas jalan desa di
pegunungan.
Solo, 22 April 2015
Meita Kumalayanti
Maaf lo Gan kalo terkesan nge-spam. Terimakasih sudah mampir & membaca. ^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar