Jumat, 24 April 2015

Halo Gan!!!
Kemarin aku baru aja mengirim naskah cerita dalam lomba yang diselenggarakan oleh sebuah organisasi jurnalistik. Sayangnya terjadi miskomunikasi. Ketentuan dari pihak penyelenggara 500-1000 karakter, aku kira sama dengan 500-1000 kata. Alhasil ceritaku yang 922 kata itu gak kepake deh.
Nah, daripada mubadzir, cerita wisataku ke salahsatu candi di Jawa Tengah ini aku post aja di satu-satunya blog milikku www.horranggenah.blogspot.com. Here is this :




Candi Sukuh, Erotisme Terbalut Kabut

Saya jatuh cinta pada gunung dan sangat mencintai gunung. Terlahir di lereng sebuah gunung membuat saya tak pernah bosan melangkahkan kaki untuk sekedar jalan-jalan dan menikmati suasana alam ciptaan  Tuhan. Sebagai warga sipil yang tercatat berdomisili tetap di Kabupaten Magetan Provinsi Jawa Timur, menelusuri destinasi wisata di lereng bagian timur Gunung Lawu sudah berulang kali saya lakukan. Jadi, pada kesempatan ini saya mencoba melebarkan eksplorasi saya ke lereng bagian barat Gunung Lawu yaitu Candi Sukuh Kabupaten Karanganyar Provinsi Jawa Tengah.
Bersama dua orang teman perempuan, saya mengendarai sepeda motor dari Magetan menuju Karanganyar. Ini kunjungan pertama saya ke Candi Sukuh, kunjungan mendadak tanpa perencanaan dan pengetahuan dasar.  Jalur yang kami lewati berliku dan menanjak khas jalanan pegunungan. Pemandangan kokohnya pohon berjajar di kiri dan kanan jalan layaknya pagar yang tinggi menjulang. Beberapa kali kabut tipis juga turun menyertai perjalanan kami yang menyebabkan tubuh menggigil. 
Tidak hanya disuguhi pemandangan pepohonan yang kokoh terbalut kabut, pedagang kaki lima pun juga turut berjajar menjajakan dagangannya di beberapa titik. Salah satu titik tersebut adalah di kawasan perbatasan Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah yang juga menjadi pintu gerbang pendakian Gunung Lawu. Banyak pedagang kaki lima maupun warung-warung yang menjual makanan dan minuman hangat. Jadi bila anda ingin berwisata melewati kawasan ini tidak perlu khawatir dengan stok konsumsi anda. Selama kantong anda masih berisi anda dapat membeli makanan maupun minuman dengan harga yang tergolong murah di kawasan ini.
Dari kawasan perbatasan provinsi kami melanjutkan perjalanan selama kurang lebih 45 menit hingga sampai di loket masuk kompleks wisata Kemuning. Wisatawan yang hendak masuk diwajibkan membayar karcis sebesar Rp 2.000,00 untuk masing-masing orang. Di kompleks ini terdapat beberapa obyek wisata seperti Perkebunan Teh Kemuning, Candi Ceto, Candi Sukuh, Telogo Madirdo, dan beberapa air terjun. Bahkan pada waktu tertentu setiap tahunnya juga diselenggarakan olahraga paralayang di kawasan ini. Namun, seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya kami mengambil arah menuju Candi Sukuh.
Apabila anda berangkat dari arah Kota Solo, anda dapat mengikuti plang petunjuk arah menuju daerah Kemuning. Waktu tempuh yang diperlukan juga hampir sama, yaitu kurang lebih dua jam hingga sampai di Candi Sukuh.
Dari loket pertama memerlukan waktu 5 sampai 10 menit untuk sampai di lahan parkir Candi Sukuh. Lahan parkir yang disediakan bersebelahan dengan lokasi candi dan cukup untuk menampung beberapa mobil dan sepeda motor, namun tidak cukup luas untuk memarkir bus pariwisata. Ada juga fasilitas umum lainnya seperti warung makanan, penyewaan ATV, toilet umum, dan Masjid yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Bila berkenan membeli oleh-oleh wisatawan juga bisa membeli kerajinan tangan masyarakat setempat yang dijual di kawasan candi.
Untuk masuk ke pelataran Candi Sukuh wisatawan diwajibkan membayar tiket sebesar Rp 3.000,00 untuk masing-masing orang. Bila wisatawan menghendaki penjelasan mengenai relief yang tergambar di panel candi seorang pemandu wisata juga disediakan, bahkan satpam penjaga juga dapat membantu memberikan informasi yang anda butuhkan.
Dari pintu masuk yang akan anda temui pertama kali adalah papan bertuliskan ulasan mengenai candi. Kemudian wisatawan akan menemui sebuah gapura beratap yang ditutupi pagar bersebelahan dengan tangga menuju teras pertama. Di gapura tersebut terdapat beberapa relief sengkala yang terukir di sisi kiri kanan gapura. Keunikan lain yang bisa wisatawan temui adalah ukiran sebuah relief menyerupai bentuk lingga dan yoni di lantai gapura yang dilindungi pagar. Konon relief tersebut dahulu kala digunakan masyarakat setempat untuk uji keperawanan dan kesetiaan. Namun, saat ini sudah tidak difungsikan serta dilindungi pagar agar relief tetap terjaga.
Di teras ke dua terdapat tangga gapura tanpa atap. Bentuknya pun sudah tidak detail. Di sisinya terdapat dua arca penjaga yang wujudnya juga sudah tidak beraturan. Tidak banyak arca yang bisa wisatawan temui di teras ini.
Teras ketiga adalah teras yang paling luas diantara kedua teras lainnya. Di teras ini terdapat bangunan utama candi dan beberapa patung serta panel. Panel-panel tersebut menceritakan cuplikan kisah salah seorang anggota pandawa yaitu Sadewa. Seorang satpan yang memandu wisatawan dan kebetulan saya temui juga menuturkan bahwa candi yang dikenal dengan relief erotiknya ini menceritakan kehidupan manusia sejak lahir hingga mati. Selain itu arca dalam jumlah lumayan banyak juga dapat dilihat di teras ini seperti arca berkepala gajah, tiga buah arca kura-kura yang besar, dan dua buah arca garuda yang salah satunya memuat prasasti sukuh.
Candi Sukuh yang merupakan candi bercorak hindu peninggalan akhir Kerajaan Majapahit ini memiliki bentuk yang berbeda dengan kebanyakan candi hindu di Indonesia. Hal ini karena bagian atas candi yang berbentuk datar. Bahkan ada beberapa yang mengatakan bentuk candi ini menyerupai candi peninggalan Bangsa Maya. Selain bagian atasnya yang datar, pada bagian tengah candi juga terdapat tangga yang memungkinkan wisatawan untuk naik ke atas candi. Namun, wisatawan yang diperkenankan menaiki candi dalam sekali waktu dibatasi tidak boleh melebihi jumlah sepuluh orang. Di atas candi tepatnya di bagian tengah setelah jalan masuk terdapat sebuah kotak cekung yang didalamnya berisikan dupa. Dari atas candi ini juga bila cuaca cerah wisatawan dapat melihat pemandangan Kabupaten Karanganyar dan Kota Solo dari ketinggian.
Setelah puas menjelajahi wisata sejarah di Candi Sukuh, kami menyempatkan diri singgah ke Telogo Madirdo yang hanya berjarak tiga kilometer. Selain penasara dengan wujud telaga yang masih sangat alami ini, kami juga ingin mencoba menemukan jalan pintas menuju daerah Tawangmangu yang berdekatan dengan lokasi telaga. Memang benar ada satu jalan pintas yang menghubungkan dua kawasan wisata tersebut. Terlebih jalan pintas itu berujung tepat di loket masuk wisata Grojogan Sewu. Sangat tepat bagi wisatawan yang juga hendak berkunjung ke air terjun yang sangat terkenal ini. Namun, bila anda mengendarai roda empat disarankan tidak melewati jalanan ini karena sempit. Dan bila anda pengendara roda dua, pastikan anda sudah berpengalaman melewati tanjakan sempit berliku khas jalan desa di pegunungan.

Solo, 22 April 2015
Meita Kumalayanti

Maaf lo Gan kalo terkesan nge-spam. Terimakasih sudah mampir & membaca. ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar