Kamis, 12 Februari 2015

Puisi "Mendua Cinta"

Ibu, mengapa kita tak pernah sama ?
Mengapa kita jauh berbeda ?
Tak seperti teman-teman perempuanku lainnya

Aku ingin bercerita banyak padamu Bu
Tentang teman-temanku
Pelajaran yang sulit kupahami
Tentang problematika remajaku
Tentang seorang laki-laki yang tengah dekat denganku
Seperti mereka
Ya, mereka

Mengapa kita terlalu berbeda, Ibu ?
Aku sangat iri ketika melihat temanku sekedar berkirim pesan dengan ibunya
Apalagi ketika mereka dalam masalah dan mengatakan merindukan ibunya

Ibu..
Aku ini seorang puterimu
Seseorang yang selalu kau harapkan tumbuh sempurna
Tapi Ibu, mengapa sempurnamu dan sempurnaku  itu jauh berbeda ?

Ibu..
Aku tak bermaksud menyalahkanmu
Sama sekali tidak
Tapi Ibu, bukankah ibu yang seharusnya menjadikanku sempurna ?
Menemaniku tumbuh dan mendidikku menjadi seperti yang Ibu mau
Bukankah Ibu sendiri yang seharusnya menulis kisah yang Ibu inginkan ?
Aku tak tau apa itu sempurna dimatamu Ibu

Ibu..
Aku tahu peluhmu yang bercucuran itu untuk menyuapiku nasi
Aku tahu kulitmu yang legam itu untuk mengantarkanku sekolah
Tapi Ibu, kisah yang Ibu harapkan itu hanya bisa ditulis olehmu
Tak ada pelajaran di sekolah yang mengajariku menjadi sempurna seperti yang egkau harapkan Ibu
Semua yang Ibu inginkan dariku adalah yang Ibu miliki
Talenta untuk mendidikku menjadi sempurna seperti yang Ibu harapkan

Ibu.. aku harus bagaimana ?
Aku tak mungkin memulai dari nol lagi
Aku takkan bisa kembali menjadi bayi kecilmu lagi
Sekolah telah mengajariku berpikir cerdas
Orang-orang disekelilingku juga mengajariku melihat dari berbagai arah
Pun televisi mengajariku banyak hal yang tak pernah kutahu

Aku harus bagaimana Ibu ?
Aku ingin menjadi sempurna untuk Ibu dan diriku sendiri
Aku ingin Bu.. sungguh
Tapi sempurnamu itu terbias di cakrawala
Aku yang menciptakan sempurnaku terlampau silau melihatnya

Ibu..
Harusnya engkau adalah orang nomer satu dalam hidupku
Tapi Ibu, aku jatuh hati pada hangatnya pelukan Bapak
Aku telah melebur dalam wibawa tangannya
Aku terhanyut dalam lembut tuturnya
Dia yang tak terlihat tapi selalu menjagaku
Dia yang tak terdengar tapi selalu mendukungku
Dia yang banyak kekurangan tapi menopangku saat kekecewaan membuatmu tanpa sadar menghempaskanku

Aku jatuh cinta pada peristiwa sederhana bersamanya
Dimana aku tak harus menjadi sempurna dimatanya
Namun dia selalu tersenyum dan menatapku dengan bangga

Maafkan aku telah menduakan cintamu Ibu
Maafkan aku..



16 Januari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar