BAHASA KALBU
Senyumnya bahkan tak tertandingi oleh lentiknya
pucuk cemara yang bergoyang diterpa angin. Duduk tepat dibelakangnya bahkan tak
berani kubayangkan. Tapi dia disini duduk bersamaku, hanya kami berdua.
“Kau menepati janjimu kawan”, gumamku dalam hati
“Hey, jangan melamun”
“Tempat ini sudah tua”, ledeknya membuyarkan lamunanku.
“Kita kemana lagi”
“Tak tau, terserahmu saja”
“Boleh”
Sudah dua tahun lebih aku dan Ari saling
mengenal. Pada awalnya kami sangat dekat, namun karena hal yang tak pernah
kutahu dia tak lagi ingin bersahabat denganku, walaupun aku masih saja menganggapnya
sebagai sahabat.
Aku masih terlalu muda untuk memahami keputusan
Ari kala itu. Kami sangat jarang menjadi akrab setelah keputusan yang diambil
Ari. Kami jarang bertegur sapa. Akrab sesaat, lalu mulai lagi dengan perang
dingin. Hati kami sangat jauh, tak seperti raga kami yang acap kali
berpapasan. Namun pada waktu-waktu akhir aku ingin menjadi sahabatnya dia malah
tersenyum kepadaku dan menyambut dengan hangat.
“Makan dulu yuk ?”
“Aku sudah sarapan. Kau belum ?”
“Sebenarnya sudah”
“Kita langsung menyusul teman-teman ?”
“Hmm..”
Disepanjang perjalanan tak banyak yang dapat
kusampaikan. Aku memiliki perasaan yang dalam kepadanya, namun lidahku selalu
terkunci. Akhirnya kubiarkan angin jalanan menyapu wajahku tanpa ada yang bisa
kuucapkan.
Tibalah kami di bumi perkemahan dimana
kawan-kawanku bercengkerama dan bernostalgia satu sama lain. Aku pun demikian.
Meskipun berada di tempat yang berbeda aku masih bisa mengingat lukisan-lukisan
kenangan bersama Ari kala itu. Kenangan yang hingga detik ini masih kuanggap
sebagai kenagan manis.
Mataku tak hentinya menangkap senyuman
manisnya, telingaku tak kunjung bosan mendengar candanya. Namun tetap saja aku
tak mampu berucap. Walaupun banyak orang mengatakan aku seorang gadis
pemberani, namun kurasa aku bukan gadis sebegitu pemberani dalam hal ini. Aku hanya bisa memandang
senyumnya dengan getir. Hatiku berteriak. Bangaimana mungkin aku bisa mengatakan
tak ingin berteman dengannya, sedangkan dia tak hentinya menyunggingkan senyum.
Putaran waktu akhirnya memanggilku untuk
bernostalgia bersama Ari. Aku berusaha merangkai kata untuk kuucapkan, walaupun
aku juga tahu itu takkan berguna lagi saat mata kami sudah saling menatap.
“Ri..”
“Apa May
?”
“I miss you”
“I miss you”
Kulihat senyum di wajahnya memudar, berganti seraut wajah penuh
kegelisahan. Kali ini aku bisa memahami keadaannya, karena aku tahu didalam
hatinya tersimpan sebuah nama. Sebuah nama yang indah dengan setiap detail suku
katanya.
Cukup lama kami terdiam seolah membeku. Aku
menatap kosong. Sekilas kulihat kepala Ari menunduk.
“Kuanggap apa yang baru saja kau ucapkan itu adalah antara adik dan
kakak”
Suaranya yang lembut itu terdengar menyerupai guruh di telingaku.
Air mata yang coba kutahan pun mengalir begitu saja melintasi pipiku.
“Tinggal menghitung hari, janjiku padamu tunai”
Mata teduhnya itu kutangkap dalam pandanganku.
“Janji apa May ?”
“Bila waktunya tiba, kau akan tahu”
Kakiku kugerakkan menjauh dari Ari. Hari itu, hari dimana merahnya
senja mengakhiri kehangatan dan menggantikannya dengan dingin bermandikan
cahaya bulan. Hari dimana aku dan Ari tak lagi saling menyapa.
***
Ditengah riuhnya gelak tawa di sekelilingku,
mataku menangkap sosok Ari yang duduk tepat didepanku. Sudah empat minggu kami
tidak saling menyapa. Hanya saja sesekali kami menangkap pandangan satu sama
lain tanpa mengeluarkan sepatah kata. Saat itulah kemudian aku mulai memikirkan
persahabatan kami. Persahabatan yang kubungkus dengan cinta, atau malah
sebenarnya permusuhan berbungkus kasih sayang. Entahlah, perasaanku tak pernah
bisa berdamai dengan akalku bila berdebat tentang hal ini. Disatu sisi Ari
selalu menjadi alasan bagiku untuk terus memperbaiki diri, namun disisi lain
perang dingin yang kerap kali kami jalani tak henti memaksaku menyerah dengan
keadaan. Akhirnya aku memilih melepaskan perasaan sayang, perasaan rindu, dan
berhenti untuk mengingatnya.
***
72, 48, 24, 0
Waktu terasa cepat berlalu. Hari yang kutunggu
akhirnya datang menyapaku. Perpisahan sekolah, hari dimana aku akan menunaikan
janjiku pada Ari.
Hari ini aku sangat sering berpapasan dengan
Ari. Namun pada saat mata kami saling menatap, saat itulah seketika kami
berpaling dan memutar arah, berjalan saling menjauh. Keraguan dalam benakku
terus mengusik setiap kata yang kurangkai saat aku berpapasan dengan Ari atau
saat tanpa sengaja tangan kami saling bersentuhan.
“Benarkah aku akan mengusiknya dengan kata-kataku ?”
“Benarkah aku akan mengganggu ketenangannya ?”
Jauh didalam hatiku aku tak ingin melakukannya.
Namun aku juga tak ingin terus menerus terpenjara didalam kesedihan. Akhirnya
kuputuskan untuk menulis sebuah surat. Entah apa yang ada dalam benaknya, tapi
setidaknya aku harus berbicara melalui kata-kata.
Magetan,
26 Mei 2014
Hai kawan,
Lama tak saling menyapa. Apa
kabarmu disana ?
Maaf, walaupun mataku masih
bisa menangkap kehadiranmu aku tak bisa lagi memanggil namamu.
Lewat sepucuk surat ini ingin
kusampaikan salamku, salam rindu untuk yang terakhir kalinya. Juga ucapan
terimakasih sedalam-dalamnya dariku untukmu yang telah menemaniku berdiri dan
berjalan dengan tegar hingga akhirnya 3 tahun berlalu.
Ditengah perjalananku pernah
terbesit dalam anganku tak bisa melakukannya saat dua tahun yang lalu kau
mengatakan :
“May, Ibu Endang menasihatiku
jangan pacaran dulu sewaktu SMA. Tunggu hingga kuliah nanti.”
Aku tak pernah mengira bisa menunaikannya. Janjiku padamu.
Disinilah tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormatku kuucapkan
terimakasih karena telah memberiku alasan untuk tetap menutup pintu dan terus
belajar tanpa menyerah.
Dari katamu yang sederhana aku belajar mengeja, dari senyummu yang
sederhana aku belajar menuliskan cerita. Semua begitu berarti.
Dan disini pula lah ingin kusampaikan permintaan maafku karena tak
sanggup berjanji ketika kau mengatakan :
“May, kamu jangan pacaran”
“Kenapa ?”
“Pacaran itu gak enak”
---- Selesai ----
Alhamdulillah cerpen ini masuk 25 Finalis Lomba Menulis Cerpen kategori Pelajar tingkat Nasional. Terimakasih sudah menyempatkan mampir membaca tulisan saya. Besar harapan saya untuk menerima kritik dan saran dari pembaca agar kedepannya lebih baik lagi.
Salam hangat,
Meita Kumalayanti


Tidak ada komentar:
Posting Komentar