Jumat, 06 Februari 2015

Cerpen "BAHASA KALBU"


BAHASA KALBU
Senyumnya bahkan tak tertandingi oleh lentiknya pucuk cemara yang bergoyang diterpa angin. Duduk tepat dibelakangnya bahkan tak berani kubayangkan. Tapi dia disini duduk bersamaku, hanya kami berdua.
“Kau menepati janjimu kawan”, gumamku dalam hati
“Hey, jangan melamun”
“Tempat ini sudah tua”, ledeknya membuyarkan lamunanku.
“Kita kemana lagi”
“Tak tau, terserahmu saja”
“Boleh”
Sudah dua tahun lebih aku dan Ari saling mengenal. Pada awalnya kami sangat dekat, namun karena hal yang tak pernah kutahu dia tak lagi ingin bersahabat denganku, walaupun aku masih saja menganggapnya sebagai sahabat.
Aku masih terlalu muda untuk memahami keputusan Ari kala itu. Kami sangat jarang menjadi akrab setelah keputusan yang diambil Ari. Kami jarang bertegur sapa. Akrab sesaat, lalu mulai lagi dengan perang dingin. Hati kami sangat jauh, tak seperti raga kami yang acap kali berpapasan. Namun pada waktu-waktu akhir aku ingin menjadi sahabatnya dia malah tersenyum kepadaku dan menyambut dengan hangat.
“Makan dulu yuk ?”
“Aku sudah sarapan. Kau belum ?”
“Sebenarnya sudah”
“Kita langsung menyusul teman-teman ?”
“Hmm..”
Disepanjang perjalanan tak banyak yang dapat kusampaikan. Aku memiliki perasaan yang dalam kepadanya, namun lidahku selalu terkunci. Akhirnya kubiarkan angin jalanan menyapu wajahku tanpa ada yang bisa kuucapkan.
Tibalah kami di bumi perkemahan dimana kawan-kawanku bercengkerama dan bernostalgia satu sama lain. Aku pun demikian. Meskipun berada di tempat yang berbeda aku masih bisa mengingat lukisan-lukisan kenangan bersama Ari kala itu. Kenangan yang hingga detik ini masih kuanggap sebagai kenagan manis.
Mataku tak hentinya menangkap senyuman manisnya, telingaku tak kunjung bosan mendengar candanya. Namun tetap saja aku tak mampu berucap. Walaupun banyak orang mengatakan aku seorang gadis pemberani, namun kurasa aku bukan gadis sebegitu pemberani  dalam hal ini. Aku hanya bisa memandang senyumnya dengan getir. Hatiku berteriak. Bangaimana mungkin aku bisa mengatakan tak ingin berteman dengannya, sedangkan dia tak hentinya menyunggingkan senyum.
Putaran waktu akhirnya memanggilku untuk bernostalgia bersama Ari. Aku berusaha merangkai kata untuk kuucapkan, walaupun aku juga tahu itu takkan berguna lagi saat mata kami sudah saling menatap.
“Ri..”
“Apa May ?”
“I miss you”
Kulihat senyum di wajahnya memudar, berganti seraut wajah penuh kegelisahan. Kali ini aku bisa memahami keadaannya, karena aku tahu didalam hatinya tersimpan sebuah nama. Sebuah nama yang indah dengan setiap detail suku katanya.
Cukup lama kami terdiam seolah membeku. Aku menatap kosong. Sekilas kulihat kepala Ari menunduk.
“Kuanggap apa yang baru saja kau ucapkan itu adalah antara adik dan kakak”
Suaranya yang lembut itu terdengar menyerupai guruh di telingaku. Air mata yang coba kutahan pun mengalir begitu saja melintasi pipiku.
“Tinggal menghitung hari, janjiku padamu tunai”
Mata teduhnya itu kutangkap dalam pandanganku.
“Janji apa May ?”
“Bila waktunya tiba, kau akan tahu”
Kakiku kugerakkan menjauh dari Ari. Hari itu, hari dimana merahnya senja mengakhiri kehangatan dan menggantikannya dengan dingin bermandikan cahaya bulan. Hari dimana aku dan Ari tak lagi saling menyapa.
***
Ditengah riuhnya gelak tawa di sekelilingku, mataku menangkap sosok Ari yang duduk tepat didepanku. Sudah empat minggu kami tidak saling menyapa. Hanya saja sesekali kami menangkap pandangan satu sama lain tanpa mengeluarkan sepatah kata. Saat itulah kemudian aku mulai memikirkan persahabatan kami. Persahabatan yang kubungkus dengan cinta, atau malah sebenarnya permusuhan berbungkus kasih sayang. Entahlah, perasaanku tak pernah bisa berdamai dengan akalku bila berdebat tentang hal ini. Disatu sisi Ari selalu menjadi alasan bagiku untuk terus memperbaiki diri, namun disisi lain perang dingin yang kerap kali kami jalani tak henti memaksaku menyerah dengan keadaan. Akhirnya aku memilih melepaskan perasaan sayang, perasaan rindu, dan berhenti untuk mengingatnya.
***
72, 48, 24, 0
Waktu terasa cepat berlalu. Hari yang kutunggu akhirnya datang menyapaku. Perpisahan sekolah, hari dimana aku akan menunaikan janjiku pada Ari.
Hari ini aku sangat sering berpapasan dengan Ari. Namun pada saat mata kami saling menatap, saat itulah seketika kami berpaling dan memutar arah, berjalan saling menjauh. Keraguan dalam benakku terus mengusik setiap kata yang kurangkai saat aku berpapasan dengan Ari atau saat tanpa sengaja tangan kami saling bersentuhan.
“Benarkah aku akan mengusiknya dengan kata-kataku ?”
“Benarkah aku akan mengganggu ketenangannya ?”
Jauh didalam hatiku aku tak ingin melakukannya. Namun aku juga tak ingin terus menerus terpenjara didalam kesedihan. Akhirnya kuputuskan untuk menulis sebuah surat. Entah apa yang ada dalam benaknya, tapi setidaknya aku harus berbicara melalui kata-kata.
Magetan, 26 Mei 2014
Hai kawan,
Lama tak saling menyapa. Apa kabarmu disana ?
Maaf, walaupun mataku masih bisa menangkap kehadiranmu aku tak bisa lagi memanggil namamu.
Lewat sepucuk surat ini ingin kusampaikan salamku, salam rindu untuk yang terakhir kalinya. Juga ucapan terimakasih sedalam-dalamnya dariku untukmu yang telah menemaniku berdiri dan berjalan dengan tegar hingga akhirnya 3 tahun berlalu.
Ditengah perjalananku pernah terbesit dalam anganku tak bisa melakukannya saat dua tahun yang lalu kau mengatakan :
“May, Ibu Endang menasihatiku jangan pacaran dulu sewaktu SMA. Tunggu hingga kuliah nanti.”
Aku tak pernah mengira bisa menunaikannya. Janjiku padamu.
Disinilah tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormatku kuucapkan terimakasih karena telah memberiku alasan untuk tetap menutup pintu dan terus belajar tanpa menyerah.
Dari katamu yang sederhana aku belajar mengeja, dari senyummu yang sederhana aku belajar menuliskan cerita. Semua begitu berarti.
Dan disini pula lah ingin kusampaikan permintaan maafku karena tak sanggup berjanji ketika kau mengatakan :
“May, kamu jangan pacaran”
“Kenapa ?”
“Pacaran itu gak enak”
---- Selesai ----

Alhamdulillah cerpen ini masuk 25 Finalis Lomba Menulis Cerpen kategori Pelajar tingkat Nasional. Terimakasih sudah menyempatkan mampir membaca tulisan saya. Besar harapan saya untuk menerima kritik dan saran dari pembaca agar kedepannya lebih baik lagi.
Salam hangat,
Meita Kumalayanti



Tidak ada komentar:

Posting Komentar